15 April 2014

Di balik Sinyal Asap

Satu-satunya penumpang yang selamat dari kapal karam itu terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni. Setiap hari dia terus berdoa agar Tuhan segera menyelamatkannya dan terus memandang lautan berharap bantuan akan datang, tetapi itu tidak tampak.

Putus asa dan lelah, ia akhirnya membangun sebuah pondok kecil dari kayu sisa kapal yang karam untuk melindungi dirinya dan untuk menyimpan beberapa barang berharga lain yang tersisa.

Pada suatu hari, setelah pulang mencari makanan di sekitar pulau yang agak jauh dari pondoknya, sesampai di rumah ia menemukan pondok kecilnya terbakar dan asapnya membumbung tinggi ke langit. Yang terburuk telah terjadi, semuanya hilang. Dia tertegun dengan kesedihan dan kemarahan. "Ya Allah, bagaimana mungkin musibah ini terjadi padaku!" teriaknya.

Pagi hari berikutnya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu telah datang untuk menyelamatkan kesendiriannya. "Bagaimana Anda tahu aku di sini?" tanya dia. 

"Kami melihat sinyal asap Anda, dan kami tahu pulau ini tak berpenghuni," jawab mereka.


Sangat mudah untuk berkecil hati, sedih atau marah ketika segala sesuatu berjalan buruk. Tapi kita tidak harus berkecil hati, karena Allah sedang bekerja dalam hidup kita, bahkan di tengah-tengah rasa sakit dan penderitaan. Musibah mungkin menjadi sinyal asap yang memanggil kasih karunia Allah.

Di balik Sinyal Asap - Catatan Devika
Di balik Sinyal Asap
Catatan Kisah Inspirasi Kesetiaan bersama Cap Kaki Tiga, Setia, Manfaat

0 comments:

Post a Comment